Sugeng rawuh--selamat datang--welcome... :)

Selamat datang di blog Bimo Suryojati Photography (bimosphotography)

Blog ini saya buat untuk memperkenalkan
diri, dan memperkenalkan (gallery) karya foto saya kepada anda semua.
Beberapa dari foto di bawah adalah karya komersial yang telah saya lakukan, beberapa yang lain merupakan hasil hunting dan hasil belajar fotografi yang akan terus saya perbaiki sampai batas kemampuan saya..

Akhir kata, semoga layak untuk dinikmati, dan bisa meramaikan dunia fotografi Indonesia..

Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan,
terima kasih matur nuwun

Bimo Suryojati

(agar lebih nyaman dalam melihat/membaca galery dan uraian dari foto-foto saya, anda bisa memilih berdasarkan judul atau tema yang ada dalam BLOG ARCHIEVE, trimakasih.. :) )


Monday, April 19, 2010

6. Storical/comical Prewedding Photography


Ide tentang foto prewedding yang bercerita (beberapa foto yang menjalin sebuah cerita) muncul ketika era digital sekarang ini sudah sangat memungkinkan dan memudahkan kita untuk membuat foto dalam jumlah banyak, editing yang tak terbatas, serta media untuk 'menayangkan' foto-foto tersebut semakin banyak pilihannya. Foto prewedding seperti ini bisa dipajang di tempat resepsi secara berjajar, sehingga memberi 'hiburan' tersendiri bagi para tamu yang datang. Juga bisa dibuat menjadi semacam komik kecil untuk disertakan pada undangan atau souvenir. Selain itu, bisa juga ditayangkan di media-media jejaring sosial.
Jadi apabila ada yang tertarik untuk membuat foto preweding dengan konsep ini, saya akan dengan senang hati membantu memvisualkan imajinasi unik, lucu, atau dramatis yang anda bayangkan :)




----under construction---

Sunday, April 18, 2010

5. Nature Photography





----under construction----

4. Back to 35mm Film (Analog)


Kadang-kadanga saya merasa jenuh dengan fotografi digital. Saat jenuh, saya kembali memotret dengan kamera analog alias kamera film. Dengan kamera film yang lumayan kuno, saya kembali ditantang untuk memotret dengan perhitungan yang 'matang', tidak mengandalkan kelebihan yang ada di kamera digital, yaitu trial & eror. Selain bisa mengasah kemampuan fotografi, memotret dengan kamera analog juga melatih mental untuk tidak selalu berharap pada hal-hal yang instant :).
Hasil foto analog, bagi saya memiliki 'feel' tersendiri yang tidak tergantikan dengan kamera digital.



---under construction---

3. Stage Photography (Fotografi Panggung)

Saya senang melihat konser atau pertunjukan seni. Meskipun seringnya nggak mudeng (paham) kalau yang diliat pertunjukkan teater atau tari kontemporer, tapi melihat pertunjukkan seni dengan tingkat idealis yang sangat tinggi seperti itu membuat saya merasa terpacu untuk ikut berkarya. Melihat pertunjukan tari atau teater atau musik kontemporer juga memberi banyak ilmu dan inspirasi artistik untuk saya.

Dalam memotret sebuah pertunjukkan, ada sebuah tantangan yang cukup besar, yaitu bagaimana foto yang dihasilkan bisa mewakili 'suasana' yang dibangun dalam pertunjukkan tersebut, tidak semata-mata mendokumentasikan sebuah pentas.
Salah satu cara yang sering saya lakukan adalah menggunakan tehnologi multiple eksposure dari kamera. Contohnya adalah foto paling atas. Itu adalah sebuah pertunjukkan tari dengan judul 'banaspati', yaitu sosok setan api dalam legenda jawa. Pertunjukkan tersebut sangat rancak, dan pergerakan penari yang sangat dinamis seolah-olah menirukan pergerakan lidah-lidah api (dengan properti yang satu tema). Saya merasa harus bisa menangkap suasana mistis tersebut dan menuangkan dalam foto, maka saya gunakan tehnologi multiple eksposure dari kamera untuk menggabungkan 3 shot foto menjadi 1 (bukan editing di komputer).





---under construction---

Saturday, April 17, 2010

2. Simply Natural PreWedding Photography

Simply Natural Prewedding Photography, atau mungkin lebih tepatnya Simply Natural Candid Prewedding Photography, adalah sebuah style foto preweding yang sedang saya pelajari dan ingin saya tawarkan kepada masyarakat. Oya sebelumnya maaf kalau istilah penamaan style diatas salah, atau tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Istilah tersebut saya buat untuk mewakili sebuah style foto prewedding yang simple, natural, apa adanya, dan diambil secara candid, alias pasangan tidak melakukan pose-pose secara sengaja untuk tampak cantik dan tampan di depan kamera, hingga editing foto yang juga simple, atau bisa dibilang minimal retouching.
Inti dari style ini, (harapan saya) adalah sebuah foto prewedding dimana 'chemistry pasangan' bisa 'blend' atau menjadi satu kesatuan dengan lokasi dan suasana yang ada, dan menjadi pusat perhatian utama dalam sebuah foto (point of interest).
Sebelumnya saya sering melakukan foto prewedding di lokasi-lokasi yang indah, artistik, atau dengan kostum-kostum dan make up yang cantik. Jujur saja, menurut saya hal tersebut membuat foto menjadi lebih 'aman', karena pemandangan yang indah, lokasi-lokasi yang artistik, langit biru, warna warni kostum dan properti, akan memberi 'kekuatan' hingga foto tersebut tampak menarik, cantik, dan indah.
Dengan konsep Simply Natural Candid, saya berusaha melakukan yang sebaliknya, yaitu membuat sebuah foto prewedding dimana tempat/lokasi, kostum, property, make up dsb tidak menjadi sesuatu yang lebih ditonjolkan daripada keberadaan chemistry atau mood dari pasangan yang menjadi obyek utama dalam foto tersebut, melainkan bersama-sama menjadi sebuah kesatuan mood atau 'rasa'.


Kemudian setelah saya pelajari dan saya coba, foto dengan konsep style seperti ini ternyata memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Diperlukan pengetahuan yang kuat akan pencahayaan, komposisi, warna, pengadeganan, dan hal-hal tehnis fotografis lainnya untuk menciptakan sebuah mood romance dalam foto seperti ini.


Hal ini yang sampai sekarang dan seterusnya akan selalu saya pelajari, dan semoga konsep style seperti ini bisa menjadi alternatif style foto prewedding bagi yang merasa ingin membuat foto prewedding yang 'berbeda', tanpa bermaksud mengatakan bahwa foto prewedding style ini lebih baik daripada style yang lain dsb, karena bagi saya semua style foto memiliki 'rasa' tersendiri yang sama-sama kuat. Dan masing-masing orang punya penilaian yang subyektif dan beragam terhadap 'rasa' dari style-style tersebut,..ya seperti ada orang yang suka pedas, ada yang suka manis, ada yang suka asin..dsb :)




Yang dibawah ini adalah contoh beberapa foto prewed yang saya buat dengan lokasi yang cukup "menjual". Foto-foto ini bagi saya sudah berada diluar style simply natural, karena memerlukan persiapan-persiapan yang tidak simple. Di foto-foto ini, saya berusaha membuat obyek (pasangan) se 'blend-in' mungkin dengan lokasi, yaitu dengan membuat pose/akting (dan properti) yang menyatu dengan tempat yang ada.


---under construction---

Friday, April 16, 2010

1. Candid Wedding Photography




Ini beberapa sample foto liputan wedding, yang sebagian besar merupakan foto candid. Foto candid merupakan style foto favorit saya, dan terus saya pelajari sampai sekarang. Foto liputan candid yang baik bagi saya, adalah sebuah foto yang mampu menunjukkan 'emosi' dari suatu moment yang ter-capture melalui kamera.

Saya yakin, bertahun-tahun setelah moment itu (pernikahan) terjadi, pasangan mempelai akan lebih mudah 'teringat' akan 'suasana hati' yang terjadi pada waktu itu, melalui foto-foto liputan candid. Karenanya saya selalu berusaha mengembangkan kemampuan saya dalam menceritakan sebuah 'moment' dalam sebuah foto candid...


Selain harus mampu menceritakan 'kisah' dari suatu moment yang terjadi, foto liputan wedding seyogyanya juga mampu menunjukkan aura kebahagiaan, keindahan, kecantikan, dan mood positif lainnya, karena moment pernikahan (wedding) adalah sebuah moment dimana semua orang bahagia dan mengekspresikan kebahagiaan tersebut dengan berbagai hal, meskipun ada tangis, itu adalah tangis haru karena menyambut sebuah peristiwa yang sangat membahagiakan..


Dalam meng-capture moment dalam sebuah acara pernikahan (wedding) secara candid, saya lebih suka memanfaatkan cahaya alami atau cahaya natural(ambience light) yang bisa berasal dari matahari, maupun lampu-lampu yang ada di ruangan tersebut.
Kadang-kadang saya harus memotret dalam keadaan yang cenderung gelap (low light), namun sebisa mungkin saya tetap akan memanfaatkan cahaya ruang, meskipun konsekuensinya saya harus menaikkan ISO pada kamera yang akan mengakibatkan munculnya noise (grain) pada hasil foto.

Bagi sebagian orang noise dalam sebuah foto liputan akan sangat mengganggu keindahan foto tersebut, namun bagi saya, noise dalam foto-foto candid justru bisa menambah unsur artistik pada foto tersebut apabila direspon dengan tepat (baik saat pemotretan maupun saat post-produksi/editing).
Selain itu, kelebihan lain apabila menggunakan cahaya ruang (available light), saya dapat melakukan eksperimen-eksperimen angle, komposisi, dan dapat memotret dengan kecepatan kerja yang lebih tinggi (karena tidak tergantung pada lampu tambahan/flash), dan hal terbut kadang-kadang menghasilkan foto yang 'tidak terduga', yang cukup menarik untuk diapresiasi...


Kenapa Hitam Putih?
Saya memang suka membuat hasil akhir foto menjadi hitam putih, atau menjadi foto bersaturasi rendah (berwarna tapi tipis/mendekati hitam putih). Menurut saya foto hitam putih memiliki kekuatan 'emosional' yang lebih kuat, karena foto hitam putih mengisolasi subyek foto dari warna-warna yang kadang-kadang mengganggu kekuatan sebuah moment.

Meskipun demikian, saya tidak selalu membuat foto menjadi hitam putih, karena menurut saya foto hitam putih maupun foto berwarna memiliki kekuatan atau daya tarik masing-masing yang bisa saling melengkapi kekuatan sebuah album foto liputan wedding..


---under construction---